Mempelajari Konsep Estetika Konvensional dan Kontemporer

Apa kalian pernah merasa ragu sendiri saat mengerjakan tugas desain? Kayak ada perasaan ragu tentang bagus atau tidaknya hasil desain kalian? Tentang warna atau komposisi dalam desain. 

Nah yang demikian, sebenarnya adalah bagian dari perjalanan memahami estetika. 

Menariknya, cara kita bisa menilai estetika dan keindahan tidak pernah statis. Ia berubah-ubah seiring zaman dan perkembangan teknologi komunikasi. 

Baik, untuk itu, saya mau ajak kalian untuk menyelam ke dua dunia yang sering kali bertabrakan tapi sebenarnya saling melengkapi, yaitu: estetika konvensional dan estetika kontemporer.

Kalau kita mundur jauh ke belakang, ke masa Plato, Aristoteles, dan para filsuf klasik, keindahan dianggap sesuatu yang objektif. Artinya, ada ukuran universal tentang apa yang disebut “indah”. 

Plato percaya bahwa keindahan itu adalah cerminan dari kebenaran dan harmoni yang ideal. Aristoteles menambahkan, keindahan muncul ketika bentuk dan fungsi berjalan seimbang; ketika proporsi, ritme, dan simetri saling berpadu.

Nah, konsep ini yang kemudian jadi dasar estetika konvensional. Kalau diterjemahkan dalam konteks desain, prinsipnya sederhana:

  • Ada harmoni antara elemen visual.
  • Ada keseimbangan antara bentuk, warna, dan ruang.
  • Ada keteraturan yang bisa dinikmati mata.

Kalian bisa lihat contoh paling nyata di karya-karya klasik lukisan Renaissance seperti Leonardo da Vinci atau Michelangelo. Semua serba proporsional, penuh perhitungan, simetris, dan elegan.

Dalam desain modern awal pun, prinsip ini masih kuat: keseimbangan visual, teori warna yang presisi, semua mengacu pada keserasian.

Tapi waktu saya mulai terjun ke dunia industri kreatif dan media sosial, pandangan itu mulai goyah. Karena di dunia nyata, terutama dunia digital, keindahan tidak lagi sesederhana itu. Desain yang dianggap estetik bisa saja biasa saja ketika sudah diunggah ke Sosmed Instagram. Belajar teori dan prakteknya saat mengerjakan desain klien, kadang sulit diterapkan. 

Lalu saya mulai belajar tentang estetika kontemporer. Berbeda dengan yang konvensional, estetika kontemporer tidak lagi bicara soal kesempurnaan bentuk, tapi soal makna dan konteks.

Keindahan, dalam pandangan ini, bersifat subjektif. Maksudnya bisa berubah tergantung siapa yang melihat, di mana ia hidup, dan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Nah ternyata, teori ini banyak dipengaruhi oleh pemikir pascamodern seperti Jean-François Lyotard, Roland Barthes, dan bahkan tokoh seni seperti Marcel Duchamp.

Dimana, Lyotard menyebut bahwa di era pascamodern, tidak ada lagi satu kebenaran tunggal, termasuk dalam soal estetika.

Lalu Barthes menulis “The death of the author means the birth of the reader.” Artinya, makna tidak lagi ditentukan oleh pencipta karya, tapi oleh audiens yang menafsirkan.

Dan Duchamp dengan karya urinoir-nya yang diberi judul “Fountain” benar-benar mengguncang konsep keindahan. Ia bilang, “Kalau aku bisa mengubah benda biasa jadi karya seni hanya dengan konteks, berarti estetika itu ada dalam pikiran, bukan hanya di mata.”

Nah, kalau kita bawa ke dunia desain masa kini, logika jadi terasa. Media sosial, misalnya, adalah ruang tempat estetika konvensional dan kontemporer bertemu, bahkan bertabrakan.
Satu sisi, kita masih butuh keteraturan, keselarasan, supaya visual tetap enak dilihat. Tapi di sisi lain, audiens digital justru tertarik pada hal-hal yang lebih spontan, lebih berani, bahkan kadang nggak sempurna.

Cerita tentang pengalaman saya dan tim saya di bisnis agensi marketing yang saya bangun. Dimana tim desain saya bikin dua versi konten untuk klien yang mempunyai bisnis fashion.
Versi pertama: clean, elegan, layout rapi, lighting bagus, warnanya lembut. Versi kedua: agak blur, shoot handheld, caption-nya agak nyeleneh dengan bahasa sehari-hari yang tidak formal. Nah justru, design yang amburadul malah yang mendapat banyak perhatian lebih. 

Pengalaman ini bisa jadi pelajaran buat teman-teman mahasiswa Prodi DKV untuk belajar bagaimana estetika, bahwa keindahan sekarang bukan lagi soal kesempurnaan. Tapi bagaimana bisa menarik perhatian orang secara spontan. 

Ternyata, semua ini berakar dari pemikiran John Dewey, yang merupakan seorang filsuf pragmatis Amerika. Dewey bilang, pengalaman estetis itu bukan cuma tentang bentuk karya, tapi tentang pengalaman emosional yang muncul ketika seseorang berinteraksi dengan karya itu. Keindahan, dalam pandangan Dewey, bukan sesuatu yang diam tapi sesuatu yang terjadi.

Jadi kalau kalian sekarang belajar desain dan bingung kenapa teori klasik terasa “terlalu kaku,” jangan buru-buru menolaknya. Estetika konvensional memberi kita dasar visual. Ia mengajarkan disiplin, harmoni, dan logika desain.

Sementara estetika kontemporer memberi kita kebebasan berpikir. Ia mengajarkan kita untuk menafsirkan, bereksperimen, dan berani keluar dari pola.

Jadi kita perlu untuk mempelajari estetika konvensional sebagai dasar untuk menciptakan karya desain. Karena hanya dengan memahami dasar, kita bisa menciptakan sesuatu yang baru dengan alasan yang kuat.

Sekarang, mari kita refleksikan sedikit. Ketika kalian nanti merancang karya entah itu poster sosial, branding, atau konten media sosial coba tanya diri sendiri: Apakah aku ingin menampilkan keindahan yang “teratur,” atau keindahan yang “menggetarkan”?

Karena pada akhirnya, estetika bukan cuma soal bagaimana sesuatu terlihat, tapi bagaimana sesuatu beresonansi. Di sinilah, dua dunia konvensional dan kontemporer saling melengkapi.

Yang konvensional memberi struktur. Yang kontemporer memberi jiwa. Dan desain yang baik, selalu berdiri di antara keduanya.

Saya ingin kalian ingat satu hal:  Ketika kalian mendesain, kalian sebenarnya sedang berdialog bukan hanya dengan bentuk, tapi juga dengan zaman. Zaman yang berubah, membuat standar keindahan juga berubah.

Tapi selama kalian peka terhadap makna, konteks, dan manusia di balik layar, desain kalian akan selalu relevan.Estetika konvensional mengajarkan kita bagaimana membuat karya terlihat indah. Estetika kontemporer mengajarkan kita kenapa karya itu terasa indah. Dan tugas kalian sebagai desainer komunikasi visual adalah menyeimbangkan keduanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top